John Juanda : Raja Poker Asal Medan yang Mendunia

john juanda

John Juanda, nama yang mungkin cukup asing untuk kebanyakan masyarakat Indonesia. Tapi mungkin tidak bagi kebanyakan orang di Medan. Yah, dialah sosok yang sempat hangat dibicarakan karena keberhasilannya memenangkan World Series of Poker (WSOP) dan mengantongi hasil kemenangan hingga 28 miliar rupiah.

Ya, pada tahun 2014 silam, pria berusia 49 tahun sempat menjadi perbincangan hangat di dunia poker profesional saat dia berhasil menjuarai WSOP. Sosoknya pun sempat menjadi ikon poker dunia kala itu.

Perjalanan Karir John Juanda

Berawal dari keberangkatannya ke Amerika untuk menempuh kuliah di Oklahoma State pada tahun 1990, permainan poker pertamanya adalah selama penerbangan dimana kawannya yang mengajarinya.

Selama di Amerika, dia tidak menyelesaikan gelar sarjananya dalam bidang pemasaran dan manajemen di Ngera Bagian Oklahoma dan pindah ke Seattle untuk mengambil gelar MBAnya. Selama di Seattle, dia semakin mendalami poker.

Untuk membayar uang kuliah, dia sempat bekerja sebagai pialang saham dan penjual Alkitab. Untuk ukuran seorang penganut Buddha, dia mampu meraih penghargaan untuk penjualan Alkitab.

Setiap akhir pekan, John menyempatkan untuk bermain di kasino sekitar tempatnya untuk bermain poker. Disana dia mengasah keahliannya bermain poker dan menyadari bahwa dia mampu menghasilkan pundi-pundi uang dari permainan tersebut.

Bahkan dia sempat membuat pernyataan jika ia bisa menghabiskan waktu 12 jam untuk bermain poker, pulang untuk tidur dan dia tidak sabar untuk bangun dan segera bermain lagi keesokan harinya.

Di tahun 1996, ketika dia berhasil meraih gelar MBAnya, dia semakin teguh dan mantap untuk melangkah menjadi pemain poker profesional. Dengan bekal dari hasil permainannya di tiap akhir pekan, dia mulai menjadi pemain profesional penuh waktu.

Dia meniti karirnya di kasino-kasino lokal di area West Coast dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke Los Angeles untuk mencari permainan dengan taruha yang lebih besar.

Baru pada tahun 1999, John Juanda memberanikan diri untuk mengikutsertakan dirinya di turnamen besar pertamanya. Dia secara rutin mengikuti turnamen kelas low buy-in yang masih dalam satu rangkaian WSOP di acara $1500 Limit Hold’em.

Dia menduduki peringkat ke 9 dari 609 pemain dan di minggu berikutnya naik ke peringkat 7 di rangkaian acara $3000. Di rangkaian final, berhadapan pemain tangguh seperti Josh Arieh, Humberto Brenes, Howard Lederer dan “Captain” Tom Franklin, John Juanda menunjukkan betapa hebatnya permainannya selama rangkaian acara $3000.

Di tahun berikutnya, John mengukuhkan bahwa dia adalah pemain yang perlu diperhitungkan. Di tahun 2000, dia kembali mengikuti WSOP dan berada di peringkat 10 di acara $3000 Limit Hold’em. Di tahun 2001, dia finish di peringkat ketiga pada acara $2500 Seven-Card Stud Hi-Lo Plit-Eight-or-Better dan sekali lagi menduduki peringkat ke 7 di event $300 Limit Hold’em.

Untuk sementara waktu John meneruskan permainannya di pertandingan dengan taruhan-taruhan rendah, hanya berpindah ke taruhan yang $1000 lebih tinggi. Hingga di tahun 2002 dia berhasil menguangkan hasil kemenangan dari 5 pertandingan berbeda selama turnamen WSOP, dengan catatan 3 kali di meja final dan 1 gelang kemenangan pertamanya.

Tak sampai 2 minggu kemudian, dia menjadi runner up di WPT Five Diamond World Poker Classic. Kemenangan tersebut adalah kemenangan dengan jumlah uang terbesar selama karirnya, $278,240 dan juga menandai dimulainya kemenangan beruntun hingga akhir tahun tersebut. Termasuk dua gelang WSOP yang dia dapat pada tahun 2003.

Prestasi Di Benua Biru

Karir cemerlang sebagai pemain poker profesional membuatnya menjadi pemain yang harus diperhitungkan. Belum puas dengan prestasi di Amerika, dia merambah ke benua Eropa dengan mengikuti WSOP Europe.

Di tahun 2008, John Juanda mengikuti perhelatan akbar WSOP Europe. Inilah kemenangannya yang paling terkenal dan paling epik ketika John berjuang selama lebih 19 jam di babak final London sebelum akhirnya menjadi pemenang setelah mempecundangi Stanislav Alekhin dan mengukuhkan mahkota kemenangan pertamanya di WSOP Europe Main Event dan mengantongi 868.800 Euro. Lalu kesuksesan di London berlanjut pada tahun 2010 saat ia berhasil berada di urutan kedua di EPT (Europe Poker Tournamen).

Gelang lain dia raih tahun 2011 bersamaan dengan gelar ketiga di tahun 2012 di kejuaraan WPT $100k Super High Roller. Selain itu dia juga finish sebagai runner up di High Roller €50K World Series of Poker 2012 dan juga meraih kemenangan di ajang World Poker Tour 2013 di Korea Selatan.

John terus melaju dan tak mampu dihentikan. Di tahun 2015, dia kembali memenangi ajang EPT Barcelona Main Event dengan raihan €1,022,593. Setahun kemudian dia meraih kemenangan besar di ajang Triton High Roller Series dan di tahun 2017 mendapatkan kemenangan di ajang PokerStars Championship di Monaco.

Dengan begitu banyaknya kemenangan dan kesuksesannya sebagi pemain poker profesional, dia masuk dalam jajaran Poker Hall of Fame di tahun 2015.

Baca Juga : Cek di sini!! Agen Sakong Online Terpercaya No Hoax 

Jalan Spiritual dan Kunci Kemenangan John Juanda

Sebagai seorang penganut Budha, John mengatakan bahwa dalam setiap kemenangan yang dia raih tak semata-mata hasil dari kepiawaiannya dalam meracik kartu. Itu semua juga ada camput tangan Tuhan di dalam setiap permainannya.

Sikap dan pembawaannya yang tenang dan ramah, membuatnya selalu berkepala dingin dalam mengambil setiap keputusan. Selain itu pembawaannya seperti yang sangat memberi pengaruh pada tiap lawannya.

Mereka akan selalu berpikir bahwa John adalah orang yang mudah dikalahkan, tetapi itu hanyalah kamuflase pada dirinya yang penuh perhitungan dan matang. Pembawaan seperti ini adalah hasil pengendalian diri yang dia kembangkan melalui agama Budha.

Dalam ajaran Budha, keseimbangan adalah hal yang sangat penting dalam tiap aspek kehidupan. Dia selalu menerapkan ajaran ini dengan selalu melakukan semuanya dengan usaha yang optimal dan tidak terlalu memiliki harapan yang terlalu tinggi.

Filosofi semacam itulah yang justru memberi John hasil yang selalu maksimal. Dengan melakukan perhitungan dan menerapkan strategi-strategi jitu dalam tiap permainannya, lalu menyerahkan hasil akhirnya di  tangan takdir.

Kunci lain dari kesuksesannya adalah dia bisa membaca bahasa tubuh lawan-lawannya. Hal ini dikarenkan saat awal dia menginjakkan kaki di tanah Amerika, dia tak mampu banyak berbahasa inggris. Hal ini membuatnya berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya menggunakan bahasa tubuh. Dari situlah, John terbiasa untuk membaca bahasa tubuh tiap-tiap orang, terutama lawan-lawan bermainnya.

Hingga saat ini John Juanda menetap di Tokyo, Jepang. Meskipun kesempatannya untuk tampil di Amerika sekarang jauh lebih terbatas, tapi John terus melanjutkan karir pokernya di Makau, Korea, Filipina dan Eropa.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *